Ini cerpen ciptaan ku sendiri…
"SEMANGATLAH KAWAN"
Pagi yang cerah seperti biasa, 3 orang sahabat bernama Putra,
Riko, dan Ical terlihat bersama-sama dating kesekolah dengan seragam putih abu-abu
mereka.
“ Selamat pagi pak
guru...” kata mereka bertiga.
“ cepat-cepat,
Kalian ini, selalu saja dating terlambat kesekolah, cepat kelapangan apel sebelum
saya menghukum kalian.” Kata pak Yos dengan tegas kepada mereka bertiga.
Ical, Putra, dan Riko berlari kelapangan apel.
Hari itu ada sebuah pemberitahuan dari pihak sekolah.
“Assalamualakum Wr.Wb
dan selamat pagi anak-anak SMA 5 Kendari yang saya cintai dan saya banggakan. Pagi
ini ada pengumuman penting untuk kalian semua, minggu depan kita akan mengadakan
porseni akbar. Jadi…pak guru harapkan bagi kalian semua agar mempersiapkandiri
kalian untuk megikuti kegiatan ini karena kita akan menjadi tuan rumah dalam acara
besar kali ini dan mengundang sejumlah
sekolah. Dan pak guru kira itu saja. Baiklah, sebelum kita masuk kedalam kelas marilah
kita berdoa menurut agama dan keyakinan kita masing-masing… berdoa dimulai_______ doa selesai” kata pak Amir lalu membubarkan para siswa untuk masuk
kedalam kelas.
“Riko, Ical, ayo
kita latihan basket sebentar pulang sekolah. Kita harus bias memberikan yang
terbaik bagi sekolah kita..” kata Putra dengan semangat.
“Siiip, sudah pasti
dong..kita harus bias memberikan yang terbaik untuk sekolah kita ini.” Kata
Riko.
“Ok.. Ok..“
kata Ical. Mereka bertiga pun berjalan menuju ke kelas.
Tidak terasa, setelah seminggu mereka latihan untuk persiapan
porseni akbar yang akan diselenggarakan di sekolah. Malam itu, Ical, Putra, dan
Riko duduk di tengal lapangan basket sambil istirahat setelah latihan dari sore
tadi.
“Besok pagi kita
akan bertanding dengan SMA 1, kita harus bias melawan mereka.” Kata Riko.
“Benar… kita harus
bermain dengan bagus besok agar kita bias menang melawan mereka. ” Kata
Putra.
“kalaubegitu, lebih baik kita pulang untuk mempersiapkan
tenaga kita untuk besok. ” Kata Ical. “okedeh..
kita pulang.” Kata Riko.
Mereka lalu pulang kerumah masing-masing untuk mempersiapkan
tenaga untuk besok.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Putra, Riko, dan Ical
bersama siswa-siswa lainnya dating untuk mengikuti pertandingan dan ada juga
yang dating untuk menonton acara porseni akbar tersebut. Pertandingan pertama
yang akan dimulai adalah pertandingan bola basket antara SMA 1 Kendari dan SMA
5 Kendari. Pada saat pertandingan akan di mulai, tiba-tiba saja seseorang dari rumah
putra menelpon.
“Halo… Tuan…
halo…” kata pembantu rumah Putra dengan paniknya.
”Kenapa bi, ada apa,
dan apa yang terjadi...?? ”Tanya putra dengan paniknya.
“ Ibu tuan jatuh
dari kamar mandi.. bibi tidak tau harus ngapain tuan…” jawab bibi Tuut dengan
bingung dan juga panik.
“Apaa… terus bagaimana
keadaan mama saya bi, terus papa udah ada dirumah?” kata Putra kaget mendengan
berita dari bi Tuut.
“Bapak masih dalam
perjalanan menuju kerumah! Sekarang kepalai butuan mengeluarkan darah… gimana tuan…??”
kata bi Tuut sambil bingung dan menangis dengan kejadian yang terjadi sekarang.
“sekarang bibi harus
tenang sampai papa saya pulang” jawab Putra. “Iyatuan..” kata bi tuut
Putra pun merasa sedih dan tidak bersemangat seperti sebelumnya.
Tetapi meskipun dia mendapat kabar buruk itu, dia harus tetap bertanding.
Pertandingan yang ditunggu-tunggu akhirnya dimulai,
dengan semangat para pemain mulai memasuki lapangan. Putra yang tadinya merasa bersemangat
untuk mengikuti pertandingan menjadi tidak bersemangat, gelisah, dan tidak konsentrasi.
Pada saat pertandingan berlangsung, permainan yang dilakukan oleh tim SMA 5
tidak sepeti pada saat latihan. Di
tengah-tengah pertandingan, Putra mengalami cederah dikakinya karena terinjak
oleh lawannya pada saat terjatuh. Putra pun di bawa kerumah sakit untuk di
periksa.
Pada saat akhir permainan, tim SMA 5 kalah dalam perandingan
itu dan SMA 1 menjadi pemenangnya.
“Meskipun tim kita
kalah dalam pertandingan ini tetapi kita harus bias menerimanya karena kalah adalah
hal yang wajar dalam suatu pertandingan”. Kata Riko memberikan semangat kepada teman-temannya.
“ IYAAA…” teriak
semangat Ical dan teman-temannya.
Setelah Riko dan Ical beristirahat mereka berdua pun
pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan sahabatnya.
“Hayy..bagaimana
keadaan mu…” Tanya Riko.
Putra hanya diam dan kelihatan sedih. Riko dan Ical
pun bertanya kepada dokter apa yang terjadi dengan sahabatnya.
“Dok, apa yang
terjadi dengan sahabat saya, kenapa dia diam dan terlihat sedih seperti itu.??”
Tanya Ical dengan rasa khawatir.
“ Tulang di
betis putra patah, dia tidak bias berjalan seperti biasa lagi dan ibunya meninggal
saat dirawat tadi, jadi dia merasa sangat sedih dan terpukul sekali sekarang”
kata Dokter.
“Apaa.. Innallillahiwainnailaihirojiun…”
kata Riko dan Ical kaget mendengar kabar tersebut.
“Pantas,
ternyata gara-gara kejadian ini dia menjadi tidak konsen pada saat pertandingan
tadi.” Fikir Riko.
Sudah
jatuh tertimpa tangga, setelah Sebulan dengan
kejadian itu. Putra menjadi anak yang pendiam dan selalu bersikap dingin kepad Riko
dan Ical. Bukan hanya mereka berdua, dia juga selalu bersikap dingin kepadat eman-teman
lainnya. Suatu hari, Riko dan Ical membuat suatu rencana agar sahabat mereka
bias bersemangat seperti biasa.
“Riko, bagaimana
kalau besok kita ajak dia di suatu tempat yang bias membuatnya senang.” Kata
Ical.
“Mmm… bagus juga
pendapat mu tapi dimana dan bagaimana caranya agar dia mau ikut.”Tanya Riko.
“Ahh.. itu nanti
saya yang urus.” Kata Ical dengan perasaan
senang.
“Okelah kalau begitu”
kata Riko.
Keesokan harinya mereka berdua pun bertemu dengan
Putra.
“Putra, hari ini
kan tidak ada PR, kau mau ngak ikut kita pergi kesuatu tempat.” Tanya Ical dengan
gembira.
“Iya saya mau.”
Jawab Putra.
“Ok.. sebentar saya
akan menjemputmu jam 15:25 di rumahmu… Ok.”
Tanya Ical dengan perasaan senang.
“Iya” kata
Putra.
Riko dan Ical merasa senang karena rencana mereka untuk
mengajak Putra sudah berhasil.
Sore harinya. Mareka berdua menjemput Putra di
rumahnya.
“Assalamualaikummm…
Putraaa…!!!” teriak Riko dan Ical memanggil Putra.
“Iyaa…
waalaikumsalam… oh... temannya putra tohh, ada apa dekk, ayo masuk..” kata
bi Tuut menyuruh mereka masuk.
“ah...tidak usah
bi.. Putranya ada ngak bi..?” Tanya Riko. “ Oh.. cari putra toh, kalau begitu masuk dulu, nanti tunggu di dalam saja
nanti saya panggilkan.!”.
Beberapa menit kemudian,
Putra sudah siap untuk pergi bersama mereka. Sepanjang perjalanan, Putra hanya terus
diam, diam, dan diam tidak ada yang bisa kita dilakukan untuk tertawa dan senyum.
Sesampainya
di tempat tujuan, Putra merasa kaget disertai kebingungan.
“Mengapa kalian
mengajakku di tempat ini.” Tanya Putra yang merasa kebingungan.
“ Kita akan melihat
makam mama kamu” kata Ical.
Setelah mereka sampai di makam mamanya, Putra, Riko,
dan Ical membacakan doa. Dengan rasa sesak didada, Putra menangis di makam mamanya.
"Mama,
maafkan Putra. Selama ini putra belum bias membahagiakan mama, selama ini Putra
telah menyusahkan putra. mama yang telah merawatku hingga sebelum keadaan ku menjadi
seperti ini. Tidak ada lagi yang bias kulakukan untuk mama selain memberikan mu
doa, terimakasih mama..." kata Putra.
Riko dan Ical juga ikut terharu melihat sahabatnya menangis
di depan makam mamanya.
"Jangan sedih
lagi, meskipun mama kamu sudah tidak ada, tetapi kamu masih punya sahabat yang
selalu membantumu di saat seperti ini, kamu harus terus bersemangat agar mama
kamu bias senang di sana." kata Riko.
Putra pun meminta maaf kepada kedua sahabatnya itu.
"Maafkan aku teman, saya hanya bias bilang terimakasih
sama kalian, hanya kalian sahabatku yang mengerti apa yang kurasakan ini. Saya sangat
beruntung mengenal kalian, dan mulai sekarang dan untuk selamanya saya tidak merasa
kesepian lagi." kata putra yang menagis sambil memelik sahabatnya itu.
Putra dan kedua sahabatnya itu kembali berkumpul seperti
dulu. Mereka selalu
berangkat dan pulang sekolah bersama-sama hingga mereka lulus SMA.
maaf ya... jika tidak mengerti dengan cerpen di atas, tolong di maklumi... ^.^
