Sabtu, 11 Mei 2013


Ini cerpen ciptaan ku sendiri…


"SEMANGATLAH KAWAN"


Pagi yang cerah seperti biasa, 3 orang sahabat bernama Putra, Riko, dan Ical terlihat bersama-sama dating kesekolah dengan seragam putih abu-abu mereka.
Selamat pagi pak guru...” kata mereka bertiga.
cepat-cepat, Kalian ini, selalu saja dating terlambat kesekolah, cepat kelapangan apel sebelum saya menghukum kalian.” Kata pak Yos dengan tegas kepada mereka bertiga.
Ical, Putra, dan Riko berlari kelapangan apel.
Hari itu ada sebuah pemberitahuan dari pihak sekolah.
Assalamualakum Wr.Wb dan selamat pagi anak-anak SMA 5 Kendari yang saya cintai dan saya banggakan. Pagi ini ada pengumuman penting untuk kalian semua, minggu depan kita akan mengadakan porseni akbar. Jadi…pak guru harapkan bagi kalian semua agar mempersiapkandiri kalian untuk megikuti kegiatan ini karena kita akan menjadi tuan rumah dalam acara besar kali ini dan mengundang sejumlah sekolah. Dan pak guru kira itu saja. Baiklah, sebelum kita masuk kedalam kelas marilah kita berdoa menurut agama dan keyakinan kita masing-masing… berdoa dimulai_______ doa selesai” kata pak Amir lalu membubarkan para siswa untuk masuk kedalam kelas.
Riko, Ical, ayo kita latihan basket sebentar pulang sekolah. Kita harus bias memberikan yang terbaik bagi sekolah kita..” kata Putra dengan semangat.
Siiip, sudah pasti dong..kita harus bias memberikan yang terbaik untuk sekolah kita ini.” Kata Riko.
Ok.. Ok..“ kata Ical. Mereka bertiga pun berjalan menuju ke kelas.
Tidak terasa, setelah seminggu mereka latihan untuk persiapan porseni akbar yang akan diselenggarakan di sekolah. Malam itu, Ical, Putra, dan Riko duduk di tengal lapangan basket sambil istirahat setelah latihan dari sore tadi.
Besok pagi kita akan bertanding dengan SMA 1, kita harus bias melawan mereka.” Kata Riko.
Benar… kita harus bermain dengan bagus besok agar kita bias menang melawan mereka. ” Kata Putra.
 “kalaubegitu, lebih baik kita pulang untuk mempersiapkan tenaga kita untuk besok. ” Kata Ical.  “okedeh.. kita pulang.” Kata Riko.
Mereka lalu pulang kerumah masing-masing untuk mempersiapkan tenaga untuk besok.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Putra, Riko, dan Ical bersama siswa-siswa lainnya dating untuk mengikuti pertandingan dan ada juga yang dating untuk menonton acara porseni akbar tersebut. Pertandingan pertama yang akan dimulai adalah pertandingan bola basket antara SMA 1 Kendari dan SMA 5 Kendari. Pada saat pertandingan akan di mulai, tiba-tiba saja seseorang dari rumah putra menelpon.
Halo… Tuan… halo…” kata pembantu rumah Putra dengan paniknya.
Kenapa bi, ada apa, dan apa yang terjadi...?? ”Tanya putra dengan paniknya.
Ibu tuan jatuh dari kamar mandi.. bibi tidak tau harus ngapain tuan…” jawab bibi Tuut dengan bingung dan juga panik.
Apaa… terus bagaimana keadaan mama saya bi, terus papa udah ada dirumah?” kata Putra kaget mendengan berita dari bi Tuut.
Bapak masih dalam perjalanan menuju kerumah! Sekarang kepalai butuan mengeluarkan darah… gimana tuan…??” kata bi Tuut sambil bingung dan menangis dengan kejadian yang terjadi sekarang.
sekarang bibi harus tenang sampai papa saya pulang” jawab Putra. “Iyatuan..” kata bi tuut
Putra pun merasa sedih dan tidak bersemangat seperti sebelumnya. Tetapi meskipun dia mendapat kabar buruk itu, dia harus tetap bertanding.
Pertandingan yang ditunggu-tunggu akhirnya dimulai, dengan semangat para pemain mulai memasuki lapangan. Putra yang tadinya merasa bersemangat untuk mengikuti pertandingan menjadi tidak bersemangat, gelisah, dan tidak konsentrasi. Pada saat pertandingan berlangsung, permainan yang dilakukan oleh tim SMA 5 tidak sepeti pada saat latihan. Di  tengah-tengah pertandingan, Putra mengalami cederah dikakinya karena terinjak oleh lawannya pada saat terjatuh. Putra pun di bawa kerumah sakit untuk di periksa.
Pada saat akhir permainan, tim SMA 5 kalah dalam perandingan itu dan SMA 1 menjadi pemenangnya.  
Meskipun tim kita kalah dalam pertandingan ini tetapi kita harus bias menerimanya karena kalah adalah hal yang wajar dalam suatu pertandingan”. Kata Riko memberikan semangat kepada teman-temannya.
IYAAA…” teriak semangat Ical dan teman-temannya.
Setelah Riko dan Ical beristirahat mereka berdua pun pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan sahabatnya.
Hayy..bagaimana keadaan mu…” Tanya Riko.
Putra hanya diam dan kelihatan sedih. Riko dan Ical pun bertanya kepada dokter apa yang terjadi dengan sahabatnya.
Dok, apa yang terjadi dengan sahabat saya, kenapa dia diam dan terlihat sedih seperti itu.??” Tanya Ical dengan rasa khawatir.
Tulang di betis putra patah, dia tidak bias berjalan seperti biasa lagi dan ibunya meninggal saat dirawat tadi, jadi dia merasa sangat sedih dan terpukul sekali sekarang” kata Dokter.
Apaa.. Innallillahiwainnailaihirojiun…” kata Riko dan Ical kaget mendengar kabar tersebut.
Pantas, ternyata gara-gara kejadian ini dia menjadi tidak konsen pada saat pertandingan tadi.” Fikir Riko.
Sudah jatuh tertimpa tangga, setelah Sebulan dengan kejadian itu. Putra menjadi anak yang pendiam dan selalu bersikap dingin kepad Riko dan Ical. Bukan hanya mereka berdua, dia juga selalu bersikap dingin kepadat eman-teman lainnya. Suatu hari, Riko dan Ical membuat suatu rencana agar sahabat mereka bias bersemangat seperti biasa.
Riko, bagaimana kalau besok kita ajak dia di suatu tempat yang bias membuatnya senang.” Kata Ical.
Mmm… bagus juga pendapat mu tapi dimana dan bagaimana caranya agar dia mau ikut.”Tanya Riko.
Ahh.. itu nanti saya yang urus.”   Kata Ical dengan perasaan senang.
Okelah kalau begitu” kata Riko.
Keesokan harinya mereka berdua pun bertemu dengan Putra.
Putra, hari ini kan tidak ada PR, kau mau ngak ikut kita pergi kesuatu tempat.” Tanya Ical dengan gembira.
Iya saya mau.” Jawab Putra.
Ok.. sebentar saya akan menjemputmu jam 15:25 di rumahmu…  Ok.” Tanya Ical dengan perasaan senang.
Iya” kata Putra.
Riko dan Ical merasa senang karena rencana mereka untuk mengajak Putra sudah berhasil.
Sore harinya. Mareka berdua menjemput Putra di rumahnya.
Assalamualaikummm… Putraaa…!!!” teriak Riko dan Ical memanggil Putra.
Iyaa… waalaikumsalam… oh... temannya putra tohh, ada apa dekk, ayo masuk..” kata bi Tuut menyuruh mereka masuk.
ah...tidak usah bi.. Putranya ada ngak bi..?” Tanya Riko. “ Oh.. cari putra toh, kalau begitu masuk dulu, nanti tunggu di dalam saja nanti saya panggilkan.!”.
 Beberapa menit kemudian, Putra sudah siap untuk pergi bersama mereka. Sepanjang perjalanan, Putra hanya terus diam, diam, dan diam tidak ada yang bisa kita dilakukan untuk tertawa dan senyum.
            Sesampainya di tempat tujuan, Putra merasa kaget disertai kebingungan.
Mengapa kalian mengajakku di tempat ini.” Tanya Putra yang merasa kebingungan.
Kita akan melihat makam mama kamu” kata Ical.
Setelah mereka sampai di makam mamanya, Putra, Riko, dan Ical membacakan doa. Dengan rasa sesak didada, Putra menangis di makam mamanya.
"Mama, maafkan Putra. Selama ini putra belum bias membahagiakan mama, selama ini Putra telah menyusahkan putra. mama yang telah merawatku hingga sebelum keadaan ku menjadi seperti ini. Tidak ada lagi yang bias kulakukan untuk mama selain memberikan mu doa, terimakasih mama..." kata Putra.
Riko dan Ical juga ikut terharu melihat sahabatnya menangis di depan makam mamanya.
"Jangan sedih lagi, meskipun mama kamu sudah tidak ada, tetapi kamu masih punya sahabat yang selalu membantumu di saat seperti ini, kamu harus terus bersemangat agar mama kamu bias senang di sana." kata Riko.
Putra pun meminta maaf kepada kedua sahabatnya itu.
 "Maafkan aku teman, saya hanya bias bilang terimakasih sama kalian, hanya kalian sahabatku yang mengerti apa yang kurasakan ini. Saya sangat beruntung mengenal kalian, dan mulai sekarang dan untuk selamanya saya tidak merasa kesepian lagi." kata putra yang menagis sambil memelik sahabatnya itu.
Putra dan kedua sahabatnya itu kembali berkumpul seperti dulu. Mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama-sama hingga mereka lulus SMA.


maaf ya... jika tidak mengerti dengan cerpen di atas, tolong di maklumi... ^.^